Cukai Rokok Naik Saat Pandemi Agar Konsumsi Rokok Menurun?

Rokok merupakan barang yang cukup kecil. Dengan ukuran yang cukup kecil tersebut bahkan sebatang rokok atau bungkus rokok dapat masuk ke dalam saku celana. Walaupun dilihat secara ukuran rokok termasuk kedalam benda kecil tetapi dampak yang diberikan sangat luar biasa. Dari mulai anak kecil sampai orang dewasa mengetahui akan rokok bahkan tidak menutup kemungkinan menggunakan barang yang bernama rokok tersebut. Saking berdampaknya benda rokok ini hampir didalam menjalani kehidupan sehari-hari seseorang tidak bisa terlepas dari rokok.

Banyak sekali kata-kata yang dikeluarkan untuk dapat menekan konsumsi rokok didalam masyarakat baik itu oleh anak kecil, orang dewasa, pemula, ataupun yang sudah sering mengonsumsi rokok. Salah satu contoh kata-kata yang sering dikeluarkan seperti rokok membunuh mu bahkan terkadang kata-kata tersebut sudah ada didalam bungkus rorok tetapi tetap saja rokok masih saja menjadi komoditas yang banyak di beli.
Berdasarkan dari laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance (SEATCA) berjudul The Tobacco Control Atlas, Asean Region menunukan bahwa negara Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbanyak yang berada di kawasan ASEAN sekitar 65,19 juta orang. Jumlah 65,19 juta orang jika kita lihat dari total penduduk negara Indonesia pada tahun 2016 maka bisa disetarakan sekitar 34% mengonsumsi rokok.

Dari laporan yang menunjukan banyaknya jumlah penduduk negara Indonesia yang mengonsumsi rokok tersirat beberapa hal. Pertama adalah kasus merokok merupakan kasus yang benar-benar sedang menyerang setiap lapisan masyarakat yang ada dan seperti bayangan hitam yang selalu mengikuti. Kedua adalah dampak kesehatan sudah bisa terlihat jelas untuk beberapa tahun kedepan. Ketiga adalah untuk menghentikan sangatlah sulit dikarenakan sudah 34% penduduk yang mengonsumsi rokok.















Saya sebagai penulis masih terngiang akan perkataan di salah satu podcast yang ada di salah satu platform yang ada. Dimana podcast tersebut menerangkan yang awalnya tentang makan kemudian rokok tetapi salah satu pembicara disitu mengatakan yang cukup mengejutkan yaitu ia tidak menikmati lagi merokok tetapi tidak bisa lepas dari kebiasaan merokok itu. Dari situ awalnya saya heran kata apa yang pas untuk menggambarkan hal tersebut tetapi saya menemukan kata yang pas yaitu candu.

Mula-mulanya seseorang yang awalnya tidak merokok berubah menjadi seseorang perokok ada banyak sekali faktor-faktor terjadinya. Pertama dari media yang dilihat. Tidak jarang bahwa film agar lebih memberikan efek sangar atau nyata menambahkan potongan-potongan seseorang yang merokok. Ketika melihat akan hal itu maka secara tidak langsung memiliki keinginan agar seperti tokok yang melakukan merokok tersebut.

Kedua adalah lingkungan. Ada sebuah kalimat yang cukup bagus yaitu ketika berada di toko parfum maka seseorang akan memiliki bau pafrum. Maka ketika seseorang berada di lingkungan perokok secara tidak sadar peluang akan menjadi perokok menjadi lebih besar.

Yang lebih disayangkan yaitu adalah perokok remaja. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Riset Kesehatan Dasar Nasioanal (Riskesda) pada tahun 2018 mengatakan kalau prevalensi merokok pada remaja usia 10 sampai 18 mengalami peningkatan sekitar 1,9% dari 2013 sebesar 7,20% menjadi 9,10% pada tahun 2018.

















Padahal seperti yang sudah kita ketahui dan dengungkan bahwa generasi muda yang termasuk ke dalam remaja merupakan roda penggerak bangsa. Apabila para generasi muda ini sudah sakit-sakitan maka untuk benar beraktifitas dan menjadi roda penggerak bangsa menjadi kian tidak maksimal. Ketika sudah tidak maksimal maka negara yang harusnya bergerak ke arah yang lebih baik di berbagai bidang menjadi kian terhambat.

Upaya perang melawan kasus rokok di tengah-tengah masyarakat terus saja di gulirkan bahkan sampai saat ini para pejuang rokok masih terus digulirkan. Tentunya perjuang melawan rokok tidak hanya di lakukan oleh organisasi masyarakat saja yang bergerak namun juga pemerintah mulai menerapkan berbagai macam kebijakan-kebijakan. Ada banyak sekali kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk menekan penggunaan rokok didalam kehidupan sehari-hari seperti peringan didalam bungkus rokok, penerapan kawasan bebas asap rokok, sampai jadwal penayangan iklan rokok dibatasi.

Bahaya rokok sudah sangat dikenal di dalam kehidupan masyarakat. Bahkan rokok juga disebut-sebut sebagai salah satu penyebab kematian dikarenakan rokok membuat berbagai macam penyakit seperti asma, infeksi paru-paru, kanker paru-paru, dan masih banyak lagi. Bahaya rokok yang dapat mengakibatkan penyakit bagi seseorang perokok saja tetapi juga bagi orang yang tidak merokok. Pasalnya efek dari asap tidak hanya dihisap oleh perokok saja tetapi bagi orang-orang disekitarnya.

Dari sebatang rokok memiliki berbagai bahan kimia yang beracun didalam kandungannya. Material karsinogen dan karbon monoksida merupakan dua materal didalam rokok merupakan dua contoh material yang berbahaya. Karsinogen merupakan bahan material yang menyebabkan penyakit kanker sedangkan material karbon monoksida merupakan bahan material yang berbahaya bagi paru-paru.

















Saat ini virus corona merupakan jenis virus SARS-CoV-2 yang merupakan virus virus yang menyebabkan penyakit Covid-19. Pada awal mulannya virus dan penyakit ini berasal dari kota Wuhan. Namun dengan perubahan waktu ditambah dengan aktifitas yang tinggi dari masyarakat membuat penyakit ini menyebar ke satu orang ke orang lain bahkan kini menyebar kesetiap negara. Dampak yang diberikan dari penyakit dari Covid-19 tidak main-main bahkan segala macam bidang terasa. Contoh dari bidang ekonomi saja bisa dilihat pemasukan bagi para perusahaan menjadi menurun sehingga untuk dapat tetap bertahan beberapa perusahaan melakukan PHK bagi beberapa pekerjannya.


Dari perkataan yang berada di atas tersebut dapat ditarik sebuah kenyataan bahwa pertama yaitu rokok menyebabkan beberapa kasus penyakit. Sedangkan kedua yaitu virus Corona merupakan virus yang berbebahaya. Apalabila seseorang menerima dua pukulan penyakit tersebut maka seseorang akan benar-benar dalam bahaya besar.
Dari perkataan narasumber yang bernama Renny Nurhasana dapat diartikan bahwa makan adalah kebutuhan kedua sedangkan kebutuhan akan rokok merupakan kebutuhan pertama. Alasan bukti dapat ditemukan secara mudah didalam lingkungan keluarga. Didalam sebuah keluarga memang laki-laki atau suami merupakan seseorang yang memiliki tujas mencari uang buat kebutuhan hidup anggota keluarganya. Tetapi nyatanya terkadang di beberapa kasus para dalam rumah tangga seseorang laki-laki atau suami ketika mendapatkan gajih dan mau memberikan kepada istriknya uang yang dihasilkan terlebih dahulu dipotong untuk kebutuhan suami seperti membeli rokok sebelum dikasih ke istri. Dari hal tersebut saja sudah menandakan bahwa kebutuhan rokok adalah kebutuhan pertama sedangkan kebutuhan makan adalah kebutuhan kedua.

Dengan adanya hal tersebut maka timbul sebuah pertanyaan yaitu:

Ada banyak sekali cara untuk menyelesaikan permasalahan tersebut salah satunya seperti melakukan menaikan cukai rokok. Dengan menaikan cukai rokok ditengan pandemik virus corona pastinya dapat diibaratkan dengan sebuah kalimat yaitu satu kali mendayung dua pulau terlewati. Arti dari pengibaratan tersebut selalin menekan angka pertumuhan perokok aktif baru juga dapat menghentikan perokok yang sudah lama merokok.
















Tentunya untuk dapat menerapkan kebijakan tersebut hanya dapat dilakukan oleh pemerintah. Walaupun terkadang seperti kebijakan yang mau diterapkan tersebut dalam upaya mencegah dampak dari rokok ditengah kehidupan masyarakat pastinya ada beberapa pro dan kontranya. Terkadang dengan pro dan kontrak yang cukup alot tersebut kebijakan tersebut hanya akan sebatas wacana saja. Maka dari itu disini diperlukan dukungan berbagai pihak agar kebijakan tersebut dapat benar-benar ditetapkan dan dilaksanakan oleh pemerintah.

Dengan sudah ditetapkan dan dilaksanakan kebijakan tersebut diharapkan akan membawa angin segar akan sebuah perubahan. Tetapi tidak hanya perubahan saja tetapi juga dampak negatif atau tidak baik bagi masyarakat akan konsumsi rokok ditengah-tengah kehidupan dapat lebih ditekan kembali. Ketika sudah dilakukan kegiatan tersebut diharapkan diujungnya negara Indonesia termasuk ke dalam negara dengan tingkat konsumsi rokok terendah yang ada di kawasan ASEAN ataupun dunia.

Untuk lebih jelas mengenai pembahasan tentang "Mengapa Cukai Rokok Harus Naik Saat Pandemik" bisa mendengarkan di program radio Ruang Publik KBR melalui di podcast KBR Prime, di sini  atau via youtube di sini

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi anda para pembaca. Terima kasih.

"Saya sudah berbagi pengalaman pribadi untuk #putusinaja hubungan dengan rokok atau dorongan kepada pemerintah untuk #putusinaja kebijakan pengendalian tembakau yang ketat. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog serial #putusinaja yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Indonesian Social Blogpreneur ISB. Syaratnya, bisa Anda lihat di sini

Sumber:

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Cukai Rokok Naik Saat Pandemi Agar Konsumsi Rokok Menurun?"

Posting Komentar